Nama : Intan Novitasari
Npm : 1C114803
Kelas : 4KA32
AUDIT
TEKNOLOGI SISTEM INFORMASI
A.
Pengertian Audit IT
Audit pada dasarnya adalah proses sistematis dan objektif
dalam memperoleh dan mengevaluasi bukti-bukti tindakan ekonomi, guna memberikan
asersi dan menilai seberapa jauh tindakan ekonomi sudah sesuai dengan kriteria
berlaku, dan mengkomunikasikan hasilnya kepada pihak terkait. Sedangkan Audit Sistem
Informasi menurut Ron
Weber (1999, p.10 ) adalah proses pengumpulan dan pengevaluasian
bukti-bukti untuk menentukan apakah suatu sistem aplikasi komputerisasi
telah menetapkan dan menerapkan sistem
pengendalian intern yang memadai. Semua aktiva dilindungi dengan baik
atau tidak disalah gunakan
serta terjaminnya integritas data, keandalan serta efektifitas dan efisiensi
penyelenggaraan sistem informasi berbasis komputer.
Secara
umum Audit IT adalah suatu proses kontrol pengujian terhadap infrastruktur
teknologi informasi dimana berhubungan dengan masalah audit finansial dan audit
internal. Audit IT lebih dikenal dengan istilah EDP Auditing (Electronic Data Processing), biasanya digunakan untuk
menguraikan dua jenis aktifitas yang berkaitan dengan komputer. Salah satu
penggunaan istilah tersebut adalah untuk menjelaskan proses penelahan dan
evaluasi pengendalian-pengendalian internal dalam EDP. Jenis aktivitas ini
disebut sebagai auditing melalui
komputer. Penggunaan istilah lainnya adalah untuk menjelaskan pemanfaatan
komputer oleh auditor untuk
melaksanakan beberapa pekerjaan audit yang tidak dapat dilakukan secara manual.
Jenis aktivitas ini disebut audit dengan komputer.
Secara umum dikenal tiga jenis audit : Audit keuangan,
audit operasional dan audit sistem informasi (Teknologi Informasi). Audit TI
merupakan proses pengumpulan dan evaluasi bukti-bukti untuk menentukan apakah
sistem komputer yang digunakan telah dapat melindungi aset milik organisasi,
mampu menjaga integritas data, dapat membantu pencapain tujuan organisasi
secara efektif, serta menggunakan sumber daya yang dimiliki secara efisien.
Audit SI/TI relatif baru ditemukan dibanding audit keuangan, seiring dengan
meningkatnya pengguna TI untuk mensupport aktifitas bisnis.
Ada beberapa aspek yang diperiksa pada audit sistem
teknologi informasi: Audit secara keseluruhan menyangkut efektifitas,
efisiensi, availability system, reliability, confidentialy, dan integrity,
serta aspek security. Selanjutnya adalah audit atas proses, modifikasi program,
audit atas sumber data, dan data file. Audit TI sendiri merupakan gabungan dari
berbagai macam ilmu, antara lain: Traditional Audit, Manajemen Sistem
Informasi, Sistem Informasi Akuntasi, Ilmu Komputer, dan Behavioral Science.
B.
Tujuan Audit IT
1.
Mengamankan
Asset
Aset (aktiva) yang berhubungan
dengan instalasi sistem informasi mencakup perangkat keras (hardware),
perangkat lunak (software), manusia (people), file data, dokumentasi sistem,
dan peralatan pendukung lainnya.
2.
Menjaga
Integritas Data
Integritas data
berarti data memiliki atribut: kelengkapan, baik dan dipercaya, kemurnian, dan
ketelitian. Tanpa menjaga integritas data, organisasi tidak dapat
memperlihatkan potret dirinya dengan benar atau kejadian yang ada tidak
terungkap seperti apa adanya. Keputusan maupun langkah-langkah penting
diorganisasi salah sasaran karena tidak didukung dengan data yang benar. Oleh
karena itu, upaya untuk menjaga integritas data, dengan konsekuensi akan ada
biaya prosedur pengendalian yang dikeluarkan harus sepadan dengan manfaat yang
diharapkan.
3.
Menjaga
Efektifitas Sistem
Sistem informasi
dikatakan efektif hanya jika sistem tersebut dapat mencapai tujuannya perlu
upaya untuk mengetahui kebutuhan pengguna sistem tersebut (user), apakah sistem
menghasilkan laporan atau informasi yang bermanfaat bagi user. Auditor perlu
mengetahui karakteristik user berikut proses pengambilan keputusannya. Biasanya
audit efektifitas sistem dilakukan setelah suatu sistem berjalan beberapa
waktu. Manajemen dapat meminta auditor untuk melakukan post audit guna
menentukan sejauh mana sistem telah mencapai tujuan.
4.
Efisiensi
Dikatakan efisien
jika ia menggunakan sumber daya seminimal mungkin untuk menghasilkan output
yang dibutuhkan. Pada kenyataannya sistem informasi menggunakan berbagai sumber
daya seperti mesin dan segala perlengkapannya, perangkat lunak, sarana
komunikasi dan tenaga kerja yang mengoperasikan sistem tersebut.
C.
Pentingnya Audit IT
Peran
kontrol dan audit teknologi informasi (TI) menjadi semakin krusial dari hari ke
hari. Menurut A Statement of Basic Auditing Concept ( ASOBAC) audit adalah
suatu proses sistematis untuk menghimpun dan mengevaluasi bukti-bukti secara
obyektif mengenai asersi tentang berbagai tindakan dan kejadian ekonomi untuk
memutuskan tingkat kesesuaian antara asersi- asersi tersebut dengan kriteria
yang telah ditentukan dan menyampaikan hasilnya kepada para pemakai yang
berkepentingan.
Sementara
audit TI terkait dengan proses menghimpun kebutuhan teknologi informasi dan
mengevaluasi infrastruktur IT. Audit IT memastikan bahwa mekanisme sistem
informasi yang berjalan, tetap berada di koridor integritas. Hal ini terjadi
sebab mekanisme sistem informasi sangat terkait dengan perekonomian secara
global.
Semuanya
menjadi sangat dependen satu dengan lainnya, sangat berbeda dengan sebelumnya
ketika belum ada sistem terintegrasi. Implikasi terdekat, gejolak geopolitik
bisa berimbas ke semua pihak. Contoh
yang paling terlihat adalah operasional infrastruktur elektronik serta
e-commerce atau sistem yang terintegrasi. Layanan ini memproses layanan
kebutuhan data di seluruh dunia. Kondisi tersebut memaksa adanya kontrol dan
audit TI yang luar biasa. Jika ada satu saja kesalahan yang tidak terdeteksi,
bisa berakibat fatal terhadap proses bisnis dan layanan yang dijanjikan.
Pentingnya
Audit IT di Perusahaan
Saat
ini perusahaan dan organisasi banyak menghabiskan dana untuk investasi dibidang
IT. Manfaat IT dalam peningkatan layanan dan proses kerja sebuah organisasi
sangat terasa. Dengan investasi
yang cukup besar organisasi perlu memastikan kehandalan dan keamanan dari
sistem IT yang akan digunakan. Sistem IT juga harus mampu memenui kebutuhan
proses kerja, mampu mengurangi resiko data di sabotasi, kehilangan data,
gangguan layanan dan manajemen yang buruk dari sistem IT.
Audit
TI atau yang pernah disebut sebagai audit electronic data processing, computer
information system, dan IS, pada awalnya merupakan pelebaran dari
audit konvensional. Dulu, kebutuhan atas fungsi audit TI hanya berasal
dari beberapa departemen.
Kemudian
auditor sadar bahwa komputer telah mempengaruhi kinerja mereka terkait fungsi
utama. Perusahaan dan manajemen pemrosesan informasi pun sadar bahwa komputer
adalah jalan keluar terkait permasalahan sumber daya untuk semakin bersaing
dalam lingkungan bisnis bahkan antar departemen. Oleh karenanya, muncullah
urgensi untuk melakukan kontrol dan audit atas proses yang berjalan. Saat itulah
para profesional menyadari tentang kebutuhan audit TI. Audit TI menjadi bagian
integral dalam fungsi audit umum, sebab hal itu akan menentukan kualitas dari
informasi yang diproses oleh sistem komputer.
Pada
mulanya, auditor dengan kemampuan audit TI dilihat sekadar sebagai staf sumber
daya teknologi biasa, bahkan sering dilihat hanya sebagai asisten teknikal.
Padahal dewasa ini, audit IT merupakan pekerjaan yang tindakan, tujuan, serta
kualitasnya telah diatur dalam standar global; ada aturan etiknya; dan tuntutan
profesional. Tentu saja hal ini memerlukan pengetahuan khusus dan kemampuan
praktis, yang sebelumnya juga didahului oleh persiapan secara intensif.
D.
Sejarah
Singkat
Audit IT
Audit IT
yang pada awalnya lebih dikenal sebagai EDP
Audit (Electronic Data Processing)
telah mengalami perkembangan yang pesat. Perkembangan Audit IT ini didorong
oleh kemajuan teknologi dalam sistem keuangan, meningkatnya kebutuhan akan
kontrol IT, dan pengaruh dari komputer itu sendiri untuk menyelesaikan
tugas-tugas penting. Pemanfaatan teknologi komputer ke dalam sistem keuangan
telah mengubah cara kerja sistem keuangan, yaitu dalam penyimpanan data,
pengambilan kembali data, dan pengendalian. Sistem keuangan pertama yang
menggunakan teknologi komputer muncul pertama kali tahun 1954.
Selama
periode 1954 sampai dengan 1960-an profesi audit masih menggunakan komputer.
Pada pertengahan 1960-an terjadi perubahan pada mesin komputer, dari mainframe
menjadi komputer yang lebih kecil dan murah. Pada tahun 1968, American Institute
of Certified Public Accountants (AICPA) ikut mendukung pengembangan EDP
auditing. Sekitar periode ini pula para auditor bersama-sama mendirikan
Electronic Data Processing Auditors Association (EDPAA). Tujuan lembaga ini
adalah untuk membuat suatu tuntunan, prosedur, dan standar bagi audit EDP. Pada
tahun 1977, edisi pertama Control Objectives diluncurkan. Publikasi ini
kemudian dikenal sebagai Control Objectives for Information and Related
Technology (CobiT). Tahun 1994, EDPAA mengubah namanya menjadi Information
System Audit (ISACA). Selama periode akhir 1960-an sampai saat ini teknologi TI
telah berubah dengan cepat dari mikrokomputer dan jaringan ke internet. Pada
akhirnya perubahan-perubahan tersebut ikut pula menentukan perubahan pada audit
IT.
E.
Standar yang digunakan Dalam Audit IT
Standar yang digunakan dalam mengaudit teknologi informasi adalah standar yang diterbitkan oleh ISACA yaitu ISACA IS
Auditing Standard. Selain itu
ISACA juga menerbitkan IS Auditing
Guidance dan IS Auditing Procedure. Standar adalah sesuatu
yang harus dipenuhi oleh IS Auditor.
Guidelines memberikan penjelasan bagaimana auditor dapat memenuhi standar dalam berbagai penugasan audit, dan prosedur memberikan contoh langkah-langkah yang perlu dilalui auditor dalam penugasan audit tertentu sehingga sesuai dengan standar.Bagaimanapun IS
auditor harus bisa menggunakan judgement profesional ketika menggunakan guidance dan
procedure.
Standar yang applicable untuk audit TI adalah terdiri dari 11 standar yaitu;
- S1.Audit charter.
- S2. Audit Independent.
- S3. Profesional Ethic and standard.
- S4. Profesional competence.
- S5. Planning.
- S6. Performance of Audit Work.
- S7.Reporting.
- S8.Follow-Up Activity.
- F9. Irregularities and Irregular Act.
- S10.IT Governance.
- S11.Use of Risk Assestment in
Audit Planning.
IS Auditing Guideline
terdiri dari 32 guidance dalam mengaudit TI yang
mengcover petunjuk mengaudit area-area
penting. IS
Audit Procedure terdiri dari 9 prosedur yang menunjukan langkah-langkah yang
dilakukan auditor dalam penugasan audit yang spesifik seperti prosedur melakukan bagaimana melakukan risk assestment,
mengetesintrution detection system, menganalisis firewall dan sebagainya. Jika dibandingkan dengan audit keuangan,
maka standar dari Isacaini adalah setara dengan Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) yaitu menyangkut tata cara bagaimana audit dilakukan.
Sedangkan
bagaimana kondisi apa yang diaudit diberikan penilaian berdasarkan standar
tersendiri yaitu Cobit.
F. COBIT (Control Objective for Information Related Tecnology)
COBIT (Control Objective for Information Related Tecnology) adalah kerangka tata kelola TI (IT governance)
yang ditujukan kepada manajemen, staf pelayanan TI, control
departemen, fungsi audit dan lebih penting lagi bagi pemilik proses bisnis
(business process owner’s), untuk memastikan confidenciality,
integrity and availability data serta informasi sensitive dan kritikal. COBIT didesign terdiri dari 34 high level control
objectives yang menggambarkan proses TI yang terdiri dari 4 domain yaitu: Plan
and Organise, Acquire and Implement, Deliver and Support dan Monitor and
Evaluate. Dengan melakukan control terhadap ke 34 objektif tersebut, organisasi dapat memperoleh keyakinan akan kelayakan tata kelola dan kontrol yang diperlukan untuk lingkungan TI. Untuk mendukung IT process
tersebut tersedia lagi sekitar 215 tujuan control
yang lebih detil untuk menjamin kelengkapan dan efektifitas implementasi. Saat ini sudah terbit Cobit 4.1.
The COBIT Framework juga memasukkan hal berikut Maturity Models –
Untuk memetakan status maturity
proses-proses TI (dalam skala 0 – 5) dibandingkan dengan “the best in the
class in the Industry” dan juga International best practices. Critical
Success Factors (CSFs) – Arahan implementasi bagi manajemen agar dapat melakukan control atas proses TI. Key Goal
Indicators (KGIs) – Kinerja proses-proses TI sehubungan dengan kebutuhan bisnis dan Key Performance
Indicators (KPIs) – Kinerja proses-proses TI sehubungan dengan process goals COBIT
dikembangkan sebagai suatu generally applicable and accepted
standard for good Information Technology (IT) security and control practices . Istilah ” generally
applicable and accepted ” digunakan secara eksplisit dalam pengertian yang sama seperti Generally Accepted
Accounting Principles (GAAP). Suatu perencanaan audit TI dapat dimulai dengan menentukan area-area yang
relevan dan berisiko paling tinggi,
melalui analisa atas ke-34 proses
tersebut. Sementara untuk kebutuhan penugasan tertentu, misalnya audit
atasproyek TI, dapat dimulai dengan memilih proses yang
relevan dari proses-proses
tersebut.
G.
Jenis
Audit IT
·
Sistem dan aplikasi.
Audit yang berfungsi untuk memeriksa apakah sistem
dan aplikasi sesuai dengan kebutuhan organisasi, berdayaguna, dan memiliki
kontrol yang cukup baik untuk menjamin keabsahan, kehandalan, tepat waktu, dan
keamanan pada input, proses, output pada semua tingkat kegiatan sistem.
·
Fasilitas pemrosesan informasi.
Audit yang berfungsi untuk memeriksa apakah
fasilitas pemrosesan terkendali untuk menjamin ketepatan waktu, ketelitian, dan
pemrosesan aplikasi yang efisien dalam keadaan normal dan buruk.
·
Pengembangan sistem.
Audit yang berfungsi untuk memeriksa apa kah sistem yang dikembangkan mencakup
kebutuhan obyektif organisasi.
·
Arsitektur perusahaan dan manajemen TI.
Audit yang berfungsi untuk memeriksa apakah
manajemen TI dapat mengembangkan struktur organisasi dan prosedur yang menjamin
kontrol dan lingkungan yang berdaya guna untuk pemrosesan informasi.
·
Client/Server, telekomunikasi, intranet,
dan ekstranet.
Suatu audit yang berfungsi untuk memeriksa apakah
kontrol-kontrol berfungsi pada client, server, dan jaringan yang menghubungkan
client dan server.
H.
Metodologi
Audit IT
Dalam praktiknya, tahapan-tahapan dalam audit IT
tidak berbeda dengan audit pada umumnya, sebagai berikut :
1.
Tahapan Perencanaan.
Sebagai suatu pendahuluan mutlak perlu dilakukan
agar auditor mengenal benar obyek yang akan diperiksa sehingga menghasilkan
suatu program audit yang didesain sedemikian rupa agar pelaksanaannya akan
berjalan efektif dan efisien.
2.
Mengidentifikasikan resiko dan kendali.
Untuk memastikan bahwa qualified resource sudah
dimiliki, dalam hal ini aspek SDM yang berpengalaman dan juga referensi
praktik-praktik terbaik.
3.
Mengevaluasi kendali dan mengumpulkan
bukti-bukti.
Melalui berbagai teknik termasuk survei, interview,
observasi, dan review dokumentasi.
4.
Mendokumentasikan.
Mengumpulkan temuan-temuan dan mengidentifikasikan
dengan auditee.
5.
Menyusun laporan.
Mencakup tujuan pemeriksaan, sifat, dan kedalaman
pemeriksaan yang dilakukan.
I.
Alasan
dilakukannya
Audit IT
Ron
Webber, Dekan Fakultas Teknologi Informasi, monash University, dalam salah satu
bukunya Information System Controls and
Audit (Prentice-Hall, 2000) menyatakan beberapa alasan penting mengapa
Audit IT perlu dilakukan, antara lain :
- Kerugian akibat kehilangan data.
- Kesalahan dalam pengambilan keputusan.
- Resiko kebocoran data.
- Penyalahgunaan komputer.
- Kerugian akibat kesalahan proses
perhitungan.
- Tingginya nilai investasi perangkat
keras dan perangkat lunak komputer
J. Manfaat
Audit IT
A.
Manfaat pada saat Implementasi (Pre-Implementation Review)
- Institusi dapat mengetahui apakah sistem
yang telah dibuat sesuai dengan kebutuhan ataupun
memenuhi acceptance criteria.
- Mengetahui apakah pemakai telah siap
menggunakan sistem tersebut.
- Mengetahui apakah outcome sesuai dengan
harapan manajemen.
B. Manfaat setelah sistem live (Post-Implementation
Review)
- Institusi mendapat masukan atas
risiko-risiko yang masih yang masih ada dan saran untuk penanganannya.
-
Masukan-masukan tersebut dimasukkan
dalam agenda penyempurnaan sistem, perencanaan strategis, dan anggaran pada
periode berikutnya.
- Bahan untuk perencanaan strategis dan
rencana anggaran di masa mendatang.
- Memberikan reasonable assurance bahwa
sistem informasi telah sesuai dengan
kebijakan atau prosedur yang telah ditetapkan.
- Membantu memastikan bahwa jejak
pemeriksaan (audit trail) telah diaktifkan dan dapat digunakan oleh manajemen,
auditor maupun pihak lain yang berwewenang melakukan pemeriksaan.
- Membantu dalam penilaian apakah initial
proposed values telah terealisasi dan
saran tindak lanjutnya.
K.
IT
Forensics
Beberapa definisi IT Forensics
- Definisi sederhana, yaitu penggunaan
sekumpulan prosedur untuk melakukan pengujian secara menyeluruh suatu sistem
komputer dengan mempergunakan software dan tool untuk memelihara barang bukti
tindakan kriminal.
- Menurut Noblett, yaitu berperan untuk
mengambil, menjaga, mengembalikan, dan menyajikan data yang telah diproses
secara elektronik dan disimpan di media komputer.
- Menurut Judd Robin, yaitu penerapan
secara sederhana dari penyidikan komputer dan teknik analisisnya untuk
menentukan bukti-bukti hukum yang mungkin.
L.
Tujuan
IT Forensics
Adalah untuk
mengamankan dan menganalisa bukti digital. Dari data yang diperoleh melalui
survey oleh FBI dan The Computer Security Institute, pada tahun 1999 mengatakan
bahwa 51% responden mengakui bahwa mereka telah menderita kerugian terutama
dalam bidang finansial akibat kejahatan komputer. Kejahatan Komputer dibagi
menjadi dua, yaitu :
1.
Komputer fraud.
Kejahatan atau pelanggaran dari segi sistem
organisasi komputer.
2.
Komputer crime.
Merupakan kegiatan berbahaya dimana menggunakan
media komputer dalam melakukan pelanggaran hukum.
M.
Terminologi
IT Forensics
A.
Bukti digital (digital evidence).
Adalah informasi yang
didapat dalam bentuk atau format digital, contohnya e-mail.
B.
Empat elemen kunci forensik dalam
teknologi informasi, antara lain :
1.
Identifikasi dari bukti digital.
Merupakan tahapan paling awal forensik dalam
teknologi informasi. Pada tahapan ini dilakukan identifikasi dimana bukti itu
berada, dimana bukti itu disimpan dan bagaimana penyimpanannya untuk
mempermudah tahapan selanjutnya.
2.
Penyimpanan bukti digital.
Termasuk tahapan yang paling kritis dalam forensik.
Bukti digital dapat saja hilang karena penyimpanannya yang kurang baik.
3.
Analisa bukti digital.
Pengambilan, pemrosesan, dan interpretasi dari bukti
digital merupakan bagian penting dalam analisa bukti digital.
4.
Presentasi bukti digital.
Proses persidangan dimana bukti digital akan diuji
dengan kasus yang ada. Presentasi disini berupa penunjukkan bukti digital yang
berhubungan dengan kasus yang disidangkan.
N.
Investigasi
Kasus
Teknologi
Informasi
1.
Prosedur forensik yang umum digunakan,
antara lain :
- Membuat copies dari keseluruhan log
data, file, dan lain-lain yang dianggap perlu pada suatu media yang terpisah.
- Membuat copies secara matematis.
- Dokumentasi yang baik dari segala
sesuatu yang dikerjakan.
2.
Bukti yang digunakan dalam IT Forensics
berupa :
- Harddisk.
- Floopy disk atau media lain yang
bersifat removeable.
- Network system.
3.
Beberapa metode yang umum digunakan
untuk forensik pada komputer ada dua yaitu :
a.
Search dan seizure.
Dimulai dari perumusan suatu rencana.
b.
Pencarian informasi (discovery information).
Metode pencarian informasi yang dilakukan oleh
investigator merupakn pencarian bukti tambahan dengan mengandalkan saksi baik
secara langsung maupun tidak langsung terlibat dengan kasus ini.
Tata
Kelola IT
A.
Pengertian Tata Kelola IT
Tata kelola adalah suatu cabang dari tata
kelola perusahaan yang terfokus pada Sistem/Teknologi
informasi serta manajemen Kinerja dan risikonya. Tata
kelola TI adalah struktur kebijakan atau prosedur dan kumpulan proses yang
bertujuan untuk memastikan kesesuaian penerapan TI dengan dukungannya terhadap
pencapaian tujuan institusi, dengan cara mengoptimalkan keuntungan dan
kesempatan yang ditawarkan TI, mengendalikan penggunaan terhadap sumber daya TI
dan mengelola resiko-resiko terkait TI.
Tata kelola teknologi informasi bukan bidang yang
terpisah dari pengelolaan perusahan, melainkan merupakan komponen pengelolaan
perusahaan secara keseluruhan, dengan tanggung jawab utama sebagai berikut:
- Memastikan
kepentingan stakeholder diikutsertakan dalam penyusunan
strategi perusahaan.
- Memberikan arahan kepada proses-proses yang menerap
kan strategi perusahaan.
- Memastikan proses-proses tersebut menghasilkan keluaran
yang terukur.
- Memastikan adanya
informasi mengenai hasil yang dipero leh dan mengukurnya.
- Memastikan keluaran yg dihasilkan sesuai dgn
yg diharap
B.
Tujuan Tata
Kelola IT
Salah satu tujuan tata kelola TI adalah untuk
menyelaraskan setiap proses-proses bisnis yang ada dengan teknologi informasi.
Artinya adalah dengan adanya struktur dan proses yang diperlukan dalam
investasi teknologi informasi, pihak manajemen dapat memastikan teknologi
informasi yang dilakukan sesuai dengan strategi bisnis yang ada. Selain
itu terdapat tujuan tata kelola TI lainnya adalah sebagai berikut :
- Menyelaraskan
teknologi informasi dengan strategi perusahaan serta realisasi dari
keuntungan-keuntungan yang telah dijanjikan dari penerapan TI.
- Penggunaan
teknologi informasi memungkinkan perusahaan mengambil peluang-peluang yang ada,
serta memaksimalkan pemanfaatan TI dalam memaksimalkan keuntungan dari
penerapan TI tersebut.
- Bertanggungjawab terhadap penggunaan sumber daya TI.
- Manajemen
resiko-resiko yang ada terkait teknologi informasi secara tepat.
C.
Pentingnya Tata
Kelola IT
Di lingkungan yang sudah memanfaatkan Teknologi
Informasi (TI), tata kelola TI menjadi hal penting yang harus diperhatikan. Hal
ini dikarenakan ekspektasi dan realitas seringkali tidak sesuai. Pihak shareholder
perusahaan selalu berharap agar
perusahaan dapat :
- Memberikan
solusi TI dengan kualitas yang bagus, tepat waktu, dan sesuai dengan anggaran.
-
Menguasai dan menggunakan TI untuk mendatangkan
keuntungan.
- Menerapkan TI untuk meningkatkan efisiensi dan
produktifitas sambil menangani risiko TI.
D.
Fokus Utama
Area Tata Kelola IT
Pada tata kelola teknologi informasi
terdapat 5 area yang menjadi fokus yaitu:
- Keselarasan
strategis (strategic alignment). Memastikan adanya hubungan
perencanaan organisasi dan TI dengan cara menetapkan, memelihara, serta
menyesuaikan operasional TI dengan operasional organisasi
- Penyampaian nilai (value delivery). Fokus dengan
melaksanakan proses TI agar supaya proses tersebut sesuai dengan siklusnya,
mulai dari menjalankan rencana, memastikan TI dapat memberikan manfaat yang
diharapkan, mengoptimalkan penggunaan biaya sehingga pada akhirnya TI dapat
mencapai hasil yang diinginkan.
- Manajemen sumber daya (resource management). Fokus pada
kegiatan yang dapat mengoptimal kan dan
mengelola sumber daya TI, yang terdiri dari aplikasi, informasi,
infrastruktur, dan sumber daya manusia
- Manajemen risiko (risk management). Untuk melaksanakan pengelolaan terhadap
risiko, dibutuhkan kesadaran anggota
organisasi dalam memahami
adanya risiko, kebutuhan
organisasi, dan risiko – risiko signifikan yang dapat terjadi, serta menanamkan tanggung jawab dalam
mengelola risiko yang
ada di organisasi.
- Pengukuran
kinerja (performance measurement). Mengikuti dan
mengawasi jalannya pelaksanaan
rencana, pelaksanaan proyek,
pemanfaaatan sumber daya, kinerja poses, penyampaian layanan sampai dengan pencapaian hasil TI
E.
Alasan
dilakukannya Tata Kelola IT
Yang menjadi alasan diperlukannya tata kelola TI adalah TI saat ini sudah menjadi kebutuhan yan sangat penting bagi hampir
semua organisasi perusahaan karena dipercaya dapat membantu meningkatkan
efektifitas dan efisiensi proses bisnis perusahaan. Untuk mencapai hal tersebut, diperlukan suatu
pengelolaan TI yang baik dan benar agar keberadaan TI mampu untuk menunjang
kesuksesan organisasi dalam pencapaian tujuannya. Kesuksesan tata kelola
perusahaan tersebut tergantung terhadap seberapa jauh tata kelola TI dilakukan.
Tata kelola TI diperlukan karena TI tidak lagi
hanya dipandang sebagai unsur pendukung proses bisnis, tetapi sudah dipandang
sebagai bagian dari strategi bisnis, tata kelola TI juga mengontrol semua
tahapan dalam siklus hidup solusi TI untuk menjaga keselarasan antara TI dengan
tujuan dan strategi organisasi agar mencapai kesuksesan. Penerapan tata kelola
pemerintahan dan percepatan penerapan TI pada pemerintahan membuat
institusi-institusi pemerintah harus meningkatkan fungsi TI nya. Dengan meningkatnya peran TI maka
investasi di bidang TI semaki besar dan semakin kompleks dalam pengelolaannya.
Oleh karenanya itu yang menjadi alasan dibutuhkannya suatu tata kelola TI yang
baik agar investasi teknologi informasinya dapat berjalan dengan baik.
Referensi :