Kamis, 28 Desember 2017

RINGKASAN MATERI AUDIT TEKNOLOGI SISTEM INFORMASI




 RINGKASAN MATERI AUDIT TEKNOLOGI SISTEM INFORMASI

Audit Sistem Informasi menurut Ron Weber (1999, p.10) adalah proses pengumpulan dan pengevaluasian bukti-bukti untuk menentukan apakah suatu sistem aplikasi komputerisasi telah menetapkan  dan  menerapkan  sistem  pengendalian intern yang memadai. Semua aktiva dilindungi dengan baik atau tidak disalah gunakan serta terjaminnya integritas data, keandalan serta efektifitas dan efisiensi penyelenggaraan sistem informasi berbasis komputer.

Ron Webber, Dekan Fakultas Teknologi Informasi, monash University, dalam salah satu bukunya Information System Controls and Audit (Prentice-Hall, 2000) menyatakan beberapa alasan penting mengapa Audit IT perlu dilakukan yaitu : kerugian akibat kehilangan data, kesalahan dalam pengambilan keputusan, resiko kebocoran data, penyalahgunaan komputer, kerugian akibat kesalahan proses perhitungan dan tingginya nilai investasi perangkat keras dan perangkat lunak komputer.
 
Tujuan Audit IT yaitu mengamankan asset, menjaga integritas data, menjaga efektifitas sistem dan efisiensi. Selain mempunyai tujuan, Audit IT juga mempunyai peran penting yaitu Audit IT memastikan bahwa mekanisme sistem informasi yang berjalan, tetap berada di koridor integritas. Hal ini terjadi sebab mekanisme sistem informasi sangat terkait dengan perekonomian secara global. Jenis Audit IT yaitu sistem dan aplikasi, fasilitas pemrosesan informasi, pengembangan sistem, arsitektur perusahaan dan manajemen TI dan client/server, telekomunikasi, intranet, dan ekstranet. Dan juga Audit IT mempunyai metodologi yaitu tahapan perencanaan, mengidentifikasikan resiko dan kendali, mengevaluasi kendali dan mengumpulkan bukti-bukti, mendokumentasikan dan menyusun laporan.

COBIT (Control Objective for Information Related Tecnology) adalah kerangka tata kelola TI (IT governance) yang ditujukan kepada manajemen, staf pelayanan TI, control departemen, fungsi audit dan lebih penting lagi bagi pemilik proses bisnis (business process owner’s), untuk memastikan confidenciality, integrity and availability data serta informasi sensitive dan kritikal. COBIT didesign terdiri dari 34 high level control objectives yang menggambarkan proses TI yang terdiri dari 4 domain yaitu: Plannig and Organization, Acquisition and Implementation, Delivery and Support, dan Monitoring and Evaluation. Dengan melakukan control terhadap ke 34 objektif tersebut, organisasi dapat memperoleh keyakinan akan kelayakan tata kelola dan kontrol yang diperlukan untuk lingkungan TI. 

Salah satu Contoh kasus dari COBIT yaitu dari domain Delivery and Support adalah AUDIT sistem informasi untuk menilai proses penyampaian dan dukungan (delivery and support) dalam pelayanan informasi dengan menggunakan framework COBIT studi kasus : PT. Telekomunikasi Indonesia, TBK. R & D center. Tesis ini mengembangkan model audit yang dapat digunakan untuk menilai proses penyampaian dan dukungan pelayanan informasi pada PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk. R and D Center. Penilaian tersebut dilakukan melalui kendali dan indikator kinerja yang merupakan hasil ekstraksi dari COBIT domain DS (delivery and support), disesuaikan dengan kondisi sistem informasi PT. Telekomunikasi Indonesia,Tbk R and D Center. Berdasarkan model tersebut, sebuah kuesioner akan dibentuk untuk mengidentifikasi tingkat maturity PT. Telekomunikasi Indonesia,Tbk R and D Center.

Beberapa definisi IT Forensics antara lain: Definisi sederhana, yaitu penggunaan sekumpulan prosedur untuk melakukan pengujian secara menyeluruh suatu sistem komputer dengan mempergunakan software dan tool untuk memelihara barang bukti tindakan kriminal, sedangkan menurut Noblett, yaitu berperan untuk mengambil, menjaga, mengembalikan, dan menyajikan data yang telah diproses secara elektronik dan disimpan di media komputer dan menurut Judd Robin, yaitu penerapan secara sederhana dari penyidikan komputer dan teknik analisisnya untuk menentukan bukti-bukti hukum yang mungkin.

Tujuan IT Forensics adalah untuk mengamankan dan menganalisa bukti digital. Dari data yang diperoleh melalui survey oleh FBI dan The Computer Security Institute, pada tahun 1999 mengatakan bahwa 51% responden mengakui bahwa mereka telah menderita kerugian terutama dalam bidang finansial akibat kejahatan komputer. Kejahatan Komputer dibagi menjadi dua, yaitu : komputer fraud (Kejahatan atau pelanggaran dari segi sistem organisasi komputer) dan komputer crime (Merupakan kegiatan berbahaya dimana menggunakan media komputer dalam melakukan pelanggaran hukum).

Contoh kasus IT Forensik salah satunya adalah membongkar korupsi dan fraud. Keistimewaan IT Forensik, dengan hardware atau software khusus, data yang diambil untuk dianalisa akan benar-benar otentik atau persis sama sesuai dengan aslinya. Lebih istimewa lagi, software IT Forensik juga dapat memeriksa data atau file bahkan yang sudah terhapus sekalipun (biasanya pelaku korupsi atau fraud berupaya menghilangkan jejak kejahatannya dengan menghapus file-file tertentu). 

 
Referensi :